Dedi Kuswandi, S.Pd., M.Pd.
Dedi Kuswandi dilahirkan di sebuah dusun
tepatnya di kampung Japaraya, Desa Talagasari Kadupandak Cianjur
pada 29 Mei 1970 dari pasangan keluarga sederhana Utom Sumamiharja dan Saripah. Dedi kecil menghabiskan masa anak-anak dan
pendidikannya hingga tamat SMP di kampungnya.
Pada tahun 1987, ia menjalani sekolah pendidikan
guru di SPG Cianjur. Menginjak masa dewasa Dedi melanjutkan pendidikan dari
tingkat SLTA ke sebuah perguruan tinggi di Bandung. Kemampuan Dedi sebagai guru
semakin terasah setelah menjalani kuliah di Jurusan Pendidikan Bahasa dan
Sastra Indonesia di Universitas Islam Nusantara Bandung. Semasa kuliah Dedi menjalani aktivitas mengajar di STM
Prakarya Internasional Bandung. Setelah lulus kuliah di Bandung
Dedi memutuskan untuk kembali ke kampung halamanya di Kadupandak.
Hingga pada akhirnya nasib dan jalan hidup Dedi
ditetapkan sebagai Guru PNS (1998) yang ditempatkan di daerah yang tergolong
terpecil di Kecamatan Kadupandak Kabupaten Cianjur.
Dari
sinilah Dedi mulai banyak berkecimpung dan bersentuhan langsung dengan
kehidupan masyarakat yang sangat minim dalam hal pendidikan. Hari-hari sebagai
guru di daerah dijalani
dengan penuh perjuangan. Jarak dari rumah ke tempat kerja di SMP Negeri 2 Kadupandak cukup jauh.
Rute perjalanan berkelok dan melewati hutan ditempuh Dedi dalam menjalani tugas
pengabdiannya. Tidak jarang Dedi sering menginap di sekolah (doktor) atau
menumpang tinggal di kampung Sindangkerta Desa Sukasari Kecamatan Kadupandak.
Istri dan kedua anaknya juga sering ditinggalkan di Cilaku Canjur apabila sedang bertugas.
Pengorbanan untuk sering berpisah dengan keluarga sudah Dedi jalani lebih dari
18 tahun pengabdiannya di
Kadupandak.
Kondisi medan pengabdian yang terpencil dengan
berbagai sarana yang terbatas tidak membuat Dedi kehilangan kreativitas., Dedi
curahkan waktunya untuk membina siswa melalui mendidik dan kegiatan Pramuka. Dari aktivitasnya ini Dedi pernah mendapatkan penghargaan dari Kwartir Cabang Gerakan
Pramuka Kabupaten Cianjur dan satya
lencana dari presiden.
Meski sering dipisahkan oleh jarak dan waktu
dengan keluarga demi mengajar dan mendidik anak-anak muridnya, suami dari
Intarti dan Ayah dari Aulia Rahman dan Syifa Nurahma ini, jarang sekali
mengeluhkan kondisi kehidupannya. Semua pengabdiannya dijalaninya dengan tulus
tanpa menghitung besaran ongkos dan gaji yang diterima. Dedi sadar betul bahwa
untuk pengabdiannya membutuhkan kerelaan hati, menerima keadaan apa pun
termasuk meninggalkan keluarganya demi mencerdaskan anak bangsa.
Cita-cita dan semangat pengabdian itulah yang
membuat Dedi terus mengabdi pada masyarakat di Kadupandak dan Cijati hingga akhirnya pada saat ini
mendapat tugas sebagai guru yang diberi tugas tambahan sebagai kepala sekolah sejak
tahun 2013 di SMPN 1 Cijati.


Tidak ada komentar:
Posting Komentar